BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Puasa merupakan salah satu rukun Islam.Di dalam Al-Quran
ada 2 kata, yaitu SHIYAM dan SHAUM. Kedua-duanya berasal dari
kata yang sama, yang artinya menahan. Orang yang menahan diri
disebut Shaim.
SHAUM di dalam Al-Quran berarti menahan diri untuk tidak
bicara, sedangkan,SHIYAM di dalam Al-Quran berarti menahan diri dari hal-hal
yang buruk menurut Allah
Seringkali kata dalam Al-Quran tapi
pemaknaannya dipersempit oleh hokum (fiqh). Seperti shalat, sebenarnya bermakna
doa. Tapi dalam hukum (fiqh) itu adalah gerakan tertentu yang diawali dengan
takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut fiqh, walaupun tidak khusyu tapikalau
sudah melakukan gerakan2 tertentu yg diawali takbir dan diakhiri salam, maka
sudah bisadikatakan itu shalat. Namun sebetulnya menurut AlQuran, dia belum
shalat yang sesungguhnya.
Hukum hanya mengatur yang nampak saja,
tapi tidak mengatur yang esensi.Begitu juga dengan makna SHIYAM. Shiyam
menurut hukum adalah tidak makan,minum dan seks sejak terbit matahari
sampai terbenam matahari. Tapi sebenarnya makna dalam Al-Quran adalah bukan
hanya sampai di situ, tapi juga menahan diri dari segala yang buruk.
Untuk apa SHIYAM ?Kata Allah dalam Al-Quran, adalah agar
kita menjadi “Tattaqun”.Surat Al-Baqarah ayat 183. Apa arti Tattaqun ?Tattaqun
adalah “kamu menjadi orang-orang yang terhindar dari segala bencana, musibah
baik di dunia maupun di akhirat kelak”.
Zakat, infaq, dan shodaqoh mengajarkan kepada kita
satu hal yang sangat esensial, yaitu bahwa Islam mengakui hak pribadi setiap
anggota masyarakat, tetapi juga menetapkan bahwa didalam kepemilikan pribadi
itu terdapat tanggung jawab social atau dalam kata lain bahwa Islam dengan ajarannya
sangat menjaga keseimbangannya antara maslahat pribadi dan maslahat social.
Zakat merupakan salah satu pokok agama yang sangat
penting dan strategis dalam Islam, karena zakat adalah rukun Islam ketiga
setelah syahadat dan shalat. Jika shalat berfungsi untuk membentuk keshalihan
dari sisi pribadi seperti mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar, maka
zakat berfungsi membentuk keshalihan dalam sistem sosial kemasyarakatan seperti
memberantas kemiskinan, menumbuhkan rasa kepedulian dan cinta kasih terhadap
golongan yang lebih lemah. Pembentukan keshalihan pribadi dan keshalihan dalam
sistem masyarakat inilah salah satu tujuan diturunkannya Risalah Islam sebagai
rahmatallil ‘alamin oleh Allah SWT kepada manusia.
Dengan zakat, Allah SWT menghendaki kebaikan
kehidupan manusia dengan ajaran-Nya agar hidup tolong menolong, gotong royong
dan selalu menjalin persaudaraan. Adanya perbedaan harta, kekayaan dan status
sosial dalam kehidupan adalah sunatullah yang tidak mungkin dihilangkan sama
sekali. Bahkan adanya perbedaan status sosial itulah manusia membutuhkan antara
satu dengan lainnya. Dan zakat (juga infaq dan shadaqah) adalah salah satu
instrumen paling efektif untuk menyatukan umat manusia dalam naungan kecintaan dan
kedamaian hidupnya di dunia, untuk menggapai kebaikan di akhirat
B.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang
penulis dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :
1. Apa makna dari puasa ?
2. Bagaimana hubungan puasa dalam kaitannya dengan
kesehatan?
3. Apa makna dari zakat dan infak?
4. Bagaimana cara pembagian zakat?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan
penulisan Makalah ini adalah Untuk memenuhi salahsatu tugas kelompok mata
kuliah AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN IV.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PUASA
A.1. Pengertian
Puasa
Puasa ialah menahan diri
dari makan dan minum serta melakukan perkara-perkara yang boleh membatalkan
puasa mulai dari terbit fajar sehingga terbenamnya matahari.
a. Hukum puasa terbagi tiga
yaitu :
Ø Wajib – Puasa pada bulan Ramadhan.
Ø Sunat – Puasa pada hari-hari
tertentu.
Ø Haram – Puasa pada hari-hari yang
dilarang berpuasa.
b.
Syarat Wajib Puasa
Ø Beragama Islam
Ø Baligh (telah mencapai umur dewasa)
Ø Berakal
Ø Berupaya untuk mengerjakannya.
Ø Sehat
Ø Tidak musafir
c. Rukun Puasa
Ø Niat mengerjakan puasa pada
tiap-tiap malam di bulan Ramadhan(puasa wajib) atau hari yang hendak berpuasa
(puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai daripada terbenamnya matahari
sehingga terbit fajar.
Ø Meninggalkan sesuatu yang
membatalkan puasa mulai terbit fajar sehingga masuk matahari.
d. Syarat Sah Puasa
Ø Beragama Islam
Ø Berakal
Ø Tidak dalam haid, nifas dan wiladah
(melahirkan anak) bagi kaum wanita
Ø Hari yang sah berpuasa.
e. Sunat Berpuasa
Ø Bersahur walaupun sedikit makanan
atau minuman
Ø Melambatkan bersahur
Ø Meninggalkan perkataan atau
perbuatan keji
Ø Segera berbuka setelah masuknya
waktu berbuka
Ø Mendahulukan berbuka daripada
sembahyang Maghrib
Ø Berbuka dengan buah tamar, jika
tidak ada dengan air
Ø Membaca doa berbuka puasa
f. Perkara Makruh Ketika Berpuasa
Ø Selalu berkumur-kumur
Ø Merasa makanan dengan lidah
Ø Berbekam kecuali perlu
Ø Mengulum sesuatu
g. Hal Yang Membatalkan Puasa
Ø Memasukkan sesuatu ke dalam rongga
badan
Ø Muntah dengan sengaja
Ø Bersetubuh atau mengeluarkan mani
dengan sengaja
Ø kedatangan haid atau nifas
Ø Melahirkan anak atau keguguran
Ø Gila walaupun sekejap
Ø Mabuk ataupun pingsan sepanjang hari
Ø Murtad atau keluar daripada agama
Islam
h. Hari Yang Disunatkan Berpuasa
Ø Hari Senin dan Kamis
Ø Hari putih (setiap 13, 14, dan 15
hari dalam bulan Islam)
Ø Hari Arafah (9 Zulhijjah) bagi orang
yang tidak mengerjakan haji
Ø Enam hari dalam bulan Syawal
i.
Hari Yang Diharamkan Berpuasa
Ø Hari raya Idul Fitri (1 Syawal)
Ø Hari raya Idul Adha (10 Zulhijjah)
Ø Hari syak (29 Syaaban)
Ø Hari Tasrik (11, 12, dan 13
Zulhijjah)
A.2.
Macam-Macam Puasa
Menurut para ahli fiqih, puasa yang
ditetapkan syariat ada 4 (empat) macam, yaitu puasa fardhu, puasa sunnat, puasa
makruh dan puasa yang diharamkan.
1.
Puasa Fardhu
Puasa fardhu adalah puasa yang harus dilaksanakan
berdasarkan ketentuan syariat Islam. Yang termasuk ke dalam puasa fardhu antara
lain:
a.
Puasa Bulan Ramadhan
Puasa dalam bulan Ramadhan dilakukan berdasarkan perintah
Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai berikut :
- yâ ayyuhal-ladzîna âmanûkutiba
‘alaykumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alal-ladzîna min qoblikum la’allakum tattaqûn
–
Wahai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu, agar kamu terhindar dari keburukan rohani dan jasmani (QS. Al
Baqarah: 183).
- syahru Romadhônal-ladzî unzila
fîhil-qurânu hudal-lin-nâsi wa bayyinâtim-minal-hudân wal-furqôn(i). Faman
syahida min(g)kumusy-syahro falyashumh(u). wa man(g) kâna marîdhon aw ‘alâ
safari(g) fa’iddatum-min ayyâmin ukhor. Yurîdullohu bikumul-yusro wa lâ yurîdu
bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata walitukabbirulloha ‘alâ mâ hadâkum wa
la’allakum tasykurûn -
“(Beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di
antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqoroh: 185)
b.
Puasa Kafarat
Puasa
kafarat adalah puasa sebagai penebusan yang dikarenakan pelanggaran terhadap
suatu hukum atau kelalaian dalam melaksanakan suatu kewajiban, sehingga
mengharuskan seorang mukmin mengerjakannya supaya dosanya dihapuskan, bentuk
pelanggaran dengan kafaratnya antara lain :
Ø Apabila seseorang melanggar
sumpahnya dan ia tidak mampu memberi makan dan pakaian kepada sepuluh orang
miskin atau membebaskan seorang roqobah, maka ia harus melaksanakan puasa
selama tiga hari.
Ø Apabila seseorang secara sengaja
membunuh seorang mukmin sedang ia tidak sanggup membayar uang darah (tebusan)
atau memerdekakan roqobah maka ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut (An
Nisa: 94).
Ø Apabila dengan sengaja membatalkan
puasanya dalam bulan Ramadhan tanpa ada halangan yang telah ditetapkan, ia
harus membayar kafarat dengan berpuasa lagi sampai genap 60 hari.
Ø Barangsiapa yang melaksanakan ibadah
haji bersama-sama dengan umrah, lalu tidak mendapatkan binatang kurban, maka ia
harus melakukan puasa tiga hari di Mekkah dan tujuh hari sesudah ia sampai
kembali ke rumah. Demikian pula, apabila dikarenakan suatu mudharat (alasan
kesehatan dan sebagainya) maka berpangkas rambut, (tahallul) ia harus berpuasa
selama 3 hari.
Ø Menurut Imam Syafi’I, Maliki dan
Hanafi:Orang yang berpuasa berturut-turut karena Kafarat, yang disebabkan
berbuka puasa pada bulan Ramadhan, ia tidak boleh berbuka walau hanya satu hari
ditengah-tengah 2 (dua) bulan tersebut, karena kalau berbuka berarti ia telah memutuskan
kelangsungan yang berturut-turut itu. Apabila ia berbuka, baik karena uzur atau
tidak, ia wajib memulai puasa dari awal lagi selama dua bulan
berturut-turut.[1]
c.
Puasa Nazar
Puasa Nazar Adalah
puasa yang tidak diwajibkan oleh Tuhan, begitu juga tidak disunnahkan oleh
Rasulullah saw., melainkan manusia sendiri yang telah menetapkannya bagi
dirinya sendiri untuk membersihkan (Tazkiyatun Nafs) atau mengadakan janji pada
dirinya sendiri bahwa apabila Tuhan telah menganugerahkan keberhasilan dalam
suatu pekerjaan, maka ia akan berpuasa sekian hari. Mengerjakan puasa nazar ini
sifatnya wajib. Hari-hari nazar yang ditetapkan apabila tiba, maka berpuasa
pada hari-hari tersebut jadi wajib atasnya dan apabila dia pada hari-hari itu
sakit atau mengadakan perjalanan maka ia harus mengqadha pada hari-hari lain
dan apabila tengah berpuasa nazar batal puasanya maka ia bertanggung jawab
mengqadhanya.
2. Puasa Sunnat
Puasa
sunnat (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan
apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnat itu antara lain :
a.
Puasa 6 (enam) hari di bulan
Syawal
Bersumber
dari Abu Ayyub Anshari r.a. sesungguhnya Rasulallah saw. bersabda: “
Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian dia menyusulkannya dengan
berpuasa enam hari pada bulan syawal , maka seakan – akan dia berpuasa selama
setahun”.[2]
b.
Puasa Tengah bulan (13, 14, 15)
dari tiap-tiap bulan Qomariyah
Pada
suatu hari ada seorng Arabdusun datang pada Rasulullah saw. dengan membawa
kelinci yang telah dipanggang. Ketika daging kelinci itu dihidangkan pada
beliau maka beliau saw. hanya menyuruh orang-orang yang ada di sekitar beliau
saw. untuk menyantapnya, sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan, demikian
pula ketika si arab dusun tidak ikut makan, maka beliau saw. bertanya padanya,
mengapa engkau tidak ikut makan? Jawabnya “aku sedang puasa tiga hari setiap
bulan, maka sebaiknya lakukanlah puasa di hari-hari putih setiap bulan”. “kalau
engkau bisa melakukannya puasa tiga hari setiap bulan maka sebaiknya lakukanlah
puasa di hari-hari putih yaitu pada hari ke tiga belas, empat belas dan ke lima
belas.[3]
c.
Puasa hari Senin dan hari Kamis.
Dari
Aisyah ra. Nabi saw. memilih puasa hari senin dan hari kamis. (H.R.
Turmudzi)[4]
d.
Puasa hari Arafah (Tanggal 9
Dzulhijjah atau Haji)
Dari
Abu Qatadah, Nabi saw. bersabda: “Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua
tahun, satu tahun yang tekah lalu dan satu tahun yang akan datang” (H. R.
Muslim)[5]
e.
Puasa tanggal 9 dan 10 bulan
Muharam.
Dari
Salim, dari ayahnya berkata: Nabi saw. bersabda: Hari Asyuro (yakni 10
Muharram) itu jika seseorang menghendaki puasa, maka berpuasalah pada hari
itu.[6]
f.
Puasa nabi Daud as. (satu hari
bepuasa satu hari berbuka)
Bersumber
dari Abdullah bin Amar ra. dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya puasa yang paling disukai oleh Allah swt. ialah puasa Nabi Daud
as. sembahyang yang paling d sukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud as.
Dia tidur sampai tengah malam, kemudian melakukan ibadah pada sepertiganya dan
sisanya lagi dia gunakan untuk tidur, kembali Nabi Daud berpuasa sehari dan
tidak berpuasa sehari.”[7]
Mengenai
masalah puasa Daud ini, apabila selang hari puasa tersebut masuk pada hari
Jum’at atau dengan kata lain masuk puasa pada hari Jum’at, hal ini dibolehkan.
Karena yang dimakruhkan adalah berpuasa pada satu hari Jum’at yang telah
direncanakan hanya pada hari itu saja.
g.
Puasa bulan Rajab, Sya’ban dan
pada bulan-bulan suci
Dari
Aisyah r.a berkata: Rasulullah saw. berpuasa sehingga kami mengatakan: beliau
tidak berbuka. Dan beliau berbuka sehingga kami mengatakan: beliau tidak
berpuasa. Saya tidaklah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa sebulan
kecuali Ramadhan. Dan saya tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada
puasa di bulan Sya’ban.[8]
3.
Puasa Makruh
Menurut
fiqih 4 (empat) mazhab, puasa makruh itu antara lain :
a.
Puasa pada hari Jumat secara
tersendiri
Berpuasa
pada hari Jumat hukumnya makruh apabila puasa itu dilakukan secara
mandiri.Artinya, hanya mengkhususkan hari Jumat saja untuk berpuasa.
Dari
Abu Hurairah ra.berkata: “Saya mendengar Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu
berpuasa pada hari Jum’at, melainkan bersama satu hari sebelumnya atau
sesudahnya.” [9]
b.
Puasa sehari atau dua hari sebelum
bulan Ramadhan
Dari
Abu Hurairah r.a dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari
kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali
seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.”[10]
c.
Puasa pada hari syak (meragukan)
Dari
Shilah bin Zufar berkata: Kami berada di sisi Amar pada hari yang diragukan
Ramadhan-nya, lalu didatangkan seekor kambing, maka sebagian kaum menjauh. Maka
‘Ammar berkata: Barangsiapa yang berpuasa hari ini maka berarti dia mendurhakai
Abal Qasim saw.[11]
4.
Puasa Haram
Puasa
haram adalah puasa yang dilarang dalam agama Islam.Puasa yang diharamkan.
Puasa-puasa tersebut antara lain:
a.
Puasa pada dua hari raya
Dari
Abu Ubaid hamba ibnu Azhar berkata: Saya menyaksikan hari raya (yakni mengikuti
shalat Ied) bersama Umar bin Khattab r.a, lalu beliau berkata:”Ini adalah dua
hari yang dilarang oleh Rasulullah saw. Untuk mengerjakan puasa, yaitu hari
kamu semua berbuka dari puasamu (1 Syawwal) dan hari yang lain yang kamu semua
makan pada hari itu, yaitu ibadah hajimu.[12](Shahih Bukhari, jilid III, No.1901).
b.
Puasa seorang wanita dengan tanpa
izin suami
Dari
Abu Hurairah ra.dari Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh seorang wanita berpuasa
sedangkan suaminya ada di rumah, di suatu hari selain bulan Ramadhan, kecuali
mendapat izin suaminya.”[13](Sunan Ibnu Majah, jilid II, No.1761)
A.3. Puasa
Dalam Kaitannya Dengan Kesehatan
1. Kesehatan
Dalam Islam
Makna dan dimensi kesehatan dalam Islam
:
Ø Pengertian
integral kesehatan meliputi :
§ Kesehatan
tubuh (body health)
§ Kesehatan
mental (mental health)
§ Kesehatan
moral (moral health)
§ Kesehatan
spiritual (spiritual health)
Ø Kesehatan
dipengaruhi tiga jenis faktor : (faktor konstitusional, faktor lingkungan,
faktor perilaku)
Ø Dua
tujuan pengobatan : Menghambat penyakit,memelihara dan mempromosikan kesehatan
2. Puasa Dan Kesehatan Badan
Ø Puasa
bulan ramadhan biasanya 14 jam sehari sampai 29-30 hari
Ø Penelitian
mirip puasa dilakukan FG. Benedict th 1915 terhadap
puasawan malta.(mereka merasa sehat & bergairah)
Ø Dr.
Alan colt dari USA , manfaat puasa :
§ Fisik
lebih baik,
§ batin
atau rohani terasa bersih,
§ Tekanan
darah dan kadar kolesterol terkontrol,
§ nafsu
sexual terkendali
§ Mengendurkan
ketegangan
§ Menajamkan
perasaan
§ Mampu
menguasai diri
§ Menghambat
proses penuaan
§ Meningkatkan
daya tahan tubuh
Ø Penemuan
ini didukung Dr. Yuri Nikolayef dari Rusia : “Dgn berpuasa kemampuan fisik menjadi lebih muda, baik fisik
/mental
Ø Berpuasalah
kamu supaya kamu sehat (Hadist)
Ø “
Dan makan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tdk
menyukai orang yg berlebih-lebihan” (QS. 7 :31)
Ø (adalah
umat) yg makan hanya bila kami merasa lapar, dan bila makan, kami tiadalah
sampai kenyang (Al-Hadist)
Ø Perut
ini adalah rumah segala penyakit dan penjagaan atas makanan adalah permulaan
pengobatan. Permulaan segala penyakit adalah mengisi perut berlebih-lebihan
(Al-Hadist)
3. Puasa
Dan Kesehatan Mental
Ø Puasa
juga perjuangan menahan emosi dan mengendalikan seluruh organ tubuh dari
melakukan hal yg dimurkai Allah
Ø Rasul
mangatakan “ Innii shooimun”
Ø Puasa,
melatih kesabaran dan menjadikan hidup bermakna. Rasulullah bersabda :”Puasa
adalah separoh kesabaran” (HR At Tirmidziy).
Ø Marah
akan meningkatkan hormon katekolamin , hormon ini akan memacu jtg, menegangkan
otot, menaikkan tensi dimana hal ini akan mempercepat penuaan
Ø EQ
(emotional quotion) lebih menentukan keberhasilan hidup
Ø Puasa
obat dari problem cemas dan putus asa
Ø “
Ingatlah ! Hanya dengan mengingat Allah SWT sajalah hati itu akan menjadi
tenang “
4. Puasa
Dan Produktivitas Sosial
Ø Hadist
: “Sebaik-baik manusia, adalah yg terbanyak memberikan manfaat pada manusia”
Ø Memperbaiki
aspek sosial dari banyak sisi :
§ Rasa
lapar, meningkatkan kepekaan
§ Kedisiplinan
puasa merasa diawasi oleh Allah
§ Rangsangan
ibadah sunnah, membuat lebih dekat kepada Allah
§ Zakat
fitrah memantapkan kepedulian terhadap sesama
Ø “
Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar
semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan.” (HR. Ibnu Huzaimah).
B. ZAKAT DAN INFAQ
B.1.Pengertian Zakat
Zakat
Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat mempunyai beberapa arti, yaitu
al-barakatu “keberkahan”, al namaa “pertumbuhan dan perkembangan”,
ath-thaharatu :kesucian”, dan ash-shalahu “keberesan”. Sedangkan secara istilah
yaitu, bahwa zakat itu adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu,
yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang
berhak menerimanaya, dengan persyaratan tertentu pula.
Hubungan
antara pengertian zakat menurut bahasa dan menurut istilah, sangat nyata dan
erat sekali, yaitu bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah,
tumbuh, berkembang dan bertambah, suci dan beres (baik). Sedangkan menurut
terminologi syari'ah (istilah syara'), zakat berarti kewajiban atas harta atau
kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu
tertentu.
B.2. Macam-macam
Zakat dan Nishabnya
Secara garis besar, zakat terbagi menjadi 2 macam, yaitu
:
a.
Zakat Mal (zakat harta),
yang meliputi :
Ø Barang kekayaan seperti emas, perak, permata
Ø Tijarah/perniagaan
Ø Peternakan
Ø Tumbuh-tumbuhan (hasil pertanian/perkebunan)
Ø Barang tambang dan temuan
Ø Sebaian pendapatan atau hasil propesi
b.
Zakat nafs, yaitu
zakat yang dikeluarkan atas jiwa manusia yang dinamakan dengan zakat fitri/fitrah
(zakat yang ditunaikan berkenaan dengan telah selesainya mengerjakan ibadah
puasa pada bulan ramadhan).
1.
Zakat Mal
Untuk
melaksanakan zakat mal perlu memperhatikan persyaratan tentang nisab (batas
kekayaan yang dikenakan wajib zakat). Di samping itu perlu juga memperhatikan
mengenai ketentuan kadar zakat yang harus dikeluarkan.
Berikut ini
diuraikan ketentuan pelaksanaan zakat mal untuk masing-masing jenis.
a.
Barang kekayaan
Ø Emas: Nisab 94 gram, haul 1tahun, dan kadar zakat 2,5%
Ø Perak: Nisab 672 gram, haul 1 tahun, dan kadar zakat 2,5%
Ø Permata: Nisab senisali dengan emas yaitu 94 gram emas,
haul 1 tahun, kadar zakat 2,5%
Ø Rumah dan tanah(untuk yang wajib dizakati): Senilai 94
gram emas, Haul 1 tahun
Ø Kendaraan (yang wajib dizakati): Nisab senilai 94 gram
emas, haul 1 tahun, kadar 2,5 %
Ø Uang simpanan, deposito, surat berharga: nisab senilai 94
gram emas, haul 1 tahun, kadar 2,5%
b.
Tijarah (harta
perniagaan).
Ø nisab senilai 94 gram emas
Ø haul 1 tahun
Ø kadar 2,5%. (adi)
c.
Binatang ternak
Ø Kambing, domba (biri-biri) Hisab 40 ekor Haul 1
tahunkadar zakat: 40 sampai 120 zakatnya 1 ekor, 121 sampai 200 ekor zakatnya 2
ekor, 201 sampai 300 ekor zakatnya 3 ekor. Atau untuk jelasnya setiap bertambah
100 ekor zakatnya bertambah 1 ekor pula.
Ø Sapi, kerbau dan kuda: nisab 30 ekor, haul 1 tahun, kadar
zakat 30 sampai 39 ekor umur 1 tahun zakatnya 1 ekor(berumur 1 tahun), 40 s.d
49 ekor zakatnya 2 ekor umurnya 2 tahun, 60 s.d 69 ekor zakatnya 3 ekor
(berumur 1 tahun). Setiap tambah 10 ekor zakatnya tambah 1 ekor umurnya 2 tahun.
Ø Binatang ternak lainnya: Nisabnya sama dengan 94 gram
emas, haul 1 tahun dan kadar zakatnya 2,5 %.
d.
Tumbuh-tumbauhan
(hasil pertaniaan, kebun): Nisabnya senilai 759 kg beras atau 1.350 kg gabah,
haul 1 tahun dan kadarnya 5 % jika perairan sulit dan 10 % jika pengairannya
mudah.
e.
Barang
tamang,temuan (rikaz): nisabnya senilai 94 gram emas, haulnya 1 tahun dan kadar
zakatnya 20 %.
f.
Hasil profesi :
nisabnya senilai 94 gram emas, haul 1 tahun, dan kadar zakatnya 2,5 %.
2.
Zakat Nafs
Zakat nafs
dibayarkan sebanyak 2,5 Kq Makanan pokok. Batas waktunya adalah sejak awal
Ramadhan hingga sebelum dilaksanakan Shalat ID.
B.3. Mustahik Dan Masalah Amil
1.
Yang berhak
menerima zakat itu ada 8 golongan, landasannya :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء
وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ
وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ
عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang
fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan
Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan
yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At
Taubah: 60)
a.
Fakir adalah orang
yang tidak memiliki batas minimum kekayaan untuk keperluan pokok bagi dirinya
dan anak-anaknya seperti tempat tinggal, sandang, pangan atau keperluan lain
yang tidak dapat diabaikan
b.
Miskin adalah
orang-orang fakir yang manahan dirinya dari berbuat meminta hingga keadaannya
tidak diketahui umum.
c.
Amilin adalah
orang-orang yang ditugaskan oleh Imam, kepala pemerintahan untuk mengumpulkan
zakat termasuk juga orang-orang yang mengurus administrasinya. Mereka hendaknya
diambil dari kaum muslimin dan bukan dari golongan yang tidak dibenarkan
menerima zakat, yaitu keluarga Rasul (Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib)
d.
Muallaf adalah
golongn yang diusahakan merangkul dan menarik serta mengukuhkan hati mereka
dalam keislaman disebabkan belum mantapnya keimanan mereka.
e.
Budak belian
f.
Gharimin adalah
orang-orang yang dibebani hutang dan ia kepayahan dalam membayarnya.
g.
Fi Sabilillah
adalah jalan menyampaikan kepada keridhaan Allah, baik berupa ilmu atau amal.
Jumhur ulama berpendapat, yang dimaksud ialah tentara atau laskar sukarela yang
turut membela Agama Islam tetapi tidak mendapatkan gaji dari pemerintah. Di
masa sekarang ini, menafkahkan fi sabilillah diantaranya ialah membiayai dan
menyiapkan penyebar-penyebar agama Islam dan mengirim mereka ke pelosok-pelosok
dengan perbekalan dana yang cukup. Termasuk juga di dalamnya membiayai
sekolah-sekolah dan para pengajarnya.
h.
Ibnu Sabil adalah
orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya dan perjalanannya bukan untuk
kemaksiatan.
2.
Metoda penyampaian
zakat kepada 8 golongan
a.
Pendapat pertama
adalah berdasarkan Surat At Taubah :60 diatas:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin,…” dan seterusnya maka zakat yang telah dikumpulkan harus
dibagikan kepada semua pihak tersebut secara menyeluruh dan tidak boleh meninggalkan/melewatkan
satu golongan pun dlam ayat itu (pendapat Imam Syafi’i)
b.
Pendapat kedua
adalah ayat di atas hanya untuk menjelaskan dan membedakan jenis-jenis orang
yang berhak menerima zakat, bukan untuk menyatakan berserikat sehingga
kewajiban zakat telah terpenuhi bila zakat yang telah terkumpulkan hanya
diberikan kepada satu atau beberapa golongan saja tergantung kondisi social di
masyarakat itu mana yang lebih prioritas. Menyalurkan zakat secara merata
kepada delapan golongan tersebut maka disamping menyulitkan (apalagi bila zakat
yang terkumpul hanya sedikit) juga sasaran zakat menjadi tidak tercapai optimal
(pendapat Jumhur ulama)
3.
Pihak atau orang
yang terlarang menerima zakat
a.
Orang-orang kafir
dan golongan atheis
b.
Bani Hasyim atau
keluarga Nabi
c.
Orang tuanya &
anak-anaknya. Alasannya ialah karena telah menjadi kewajiban bagi pembayar
zakat untuk memberi nafkah kepada mereka (keluarganya). Kewajiban berzakat
tidak menggugurkan kewajiban memberikan nafkah.
d.
Istrinya. Alasannya
seperti di atas
4.
Masalah Amil
Yang dimaksud dengan amil zakat
adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, mulai dari para
pengumpul sampai kepada bendahara dan para penjaganya. Juga mulai dari pencatat
sampai kepada penghitung yang mencatat keluar masuknya zakat, dan membagi
kepada para mustahiknya.
Sedangkan mengutip dari Tim
Penyusun IMZ ( 2002: 101) yang dimaksud amil zakat adalah mereka yang diangkat
oleh penguasa atau badan untuk mengurus zakat.
Dari kedua pendapat di atas,
bisa ditarik kesimpulan bahwa amil zakat adalah orang yang ditugaskan penguasa
untuk menghimpun, menyalurkan kepada yang berhak serta membuat catatan atas
kegiatan tersebut. Maka seorang amil zakat hendaknya adalah orang yang pandai
dan tahu tentang masalah zakat.
Adapun yang menjadi persyaratan
untuk menjadi amil zakat adalah:
Ø Hendaklah ia
seorang muslim
Ø Hendaklah petugas zakat itu seorang muakallaf
Ø Petugas zakat itu
hendaklah seorang yang jujur
Ø Memahami hukum –
hukum zakat
Ø Kemampuan untuk
melakukan tugas
Ø Disyaratkan
laki-laki
Ø Sebagian ulama
mensyaratkan iaseorang mukallaf bukanseorang hamba
a.
Bagian Yang Menjadi
Hak Amil
Mengutip tulisan Qardawi dalam
bukunya “Hukum Zakat”(2002), riwat dari Syafi’i, disebutkan bahwa amilin diberi
zakat sebesar bagian kelompok yang lain karena didasarkan pada pendapatannya
yang menyamakan bagian semua golongan mustahik zakat. Kalau upah tersebut lebih
besar dari bagian tersebut, haruslah diambilkan dari harta di luar zakat.
Sedangkan yang lebih umum
diketahui bahwa yang menjadi bagian amil zakat adalah 1/8 atau 12,5% dari
penerimaan zakat. Adapun hal tersebut tidak boleh melebihi dari yang
ditetapkan.
b.
Jika Amil Dianggap
Sebagai Profesi
Bahwa setiap orang yang
mempunyai pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan
sendiri maupun yang dilakukan bersama dengan orang/ lembaga lain, yang
mendatangkan penghasilan serta telah memenuhi nisab maka ia wajib mengeluarkan
zakat.
Dalam hal ini amil adalah orang
yang melakukan pekerjaan dan mempunyai keahlian dalam urusan zakat dan ia dapat
berupa lembaga dan ia mendapatkan penghasilan/ upah dari pekerjaan tersebut,
maka jika dikaitkan dengan pengertian zakat profesi di atas, amil harus
mengeluarkan zakat dari penghasilannya jika telah memenuhi nisab.
Tanpa memandang ia sebagai
mustahik atau pun mempunyai pekerjaan lain, jika kita menitik beratkan pada
pendapatan/penghasilannya sebagai amil yang merupakan haknya 1/8, terdapat
kemungkinan potensi besar uang yang diterimanya jika penerimaan dana zakat
besar.
Kita mengambil contoh,
berdasarkan laporan Ketua Umum Badan Amil Zakat Daerah kabupaten Lombok Timur,
Lalu Gaffar Ismail, dana zakat yang terhimpun hingga Desember 2003, berjumlah
sebesar Rp. 2, 6 milliar. Jika kita mengambil bagian untuk Amil sebesar 12,5 %,
maka nominal zakat yang menjadi hak amil adalah:
12, 5% x Rp. 2.600.000.000 =
Rp. 325.000.000
Kita asumsikan jumlah amil
dalam lembaga tersebut berjumlah 40 orang yang wajib menerima bagian. Maka kita
akan menghitung bagian satu orang amil (jika asumsi dibagi rata) adalah:
Rp. 325.000.000 : 40 = Rp. 8.
125.000
Jumlah tersebut merupakan hak
yang diterima seorang amil untuk satu tahun yang jika dibagi tanpa memandang
jabatan sebagai apapun. Maka jumlah tersebut telah mencapai nisab zakat sebesar
2,5 %
Maka dalam hal ini sangat wajar
jika amil mengeluarkan zakat atas penghasilan tersebut.
c.
Jika Tidak Dianggap
Sebagai Profesi
Jika tidak dianggap sebagai
profesi maka kita akan menilai potensi lain yang dapat disumbangkan oleh
penghasilan amil tersebut. Masih contoh yang sama, jika seandainya asumsi kita
amil tersebut mempunyai pekerjaan tetap, maka jumlah Rp. 8.125.000 per tahun
tersebut kita alokasikan kepada mustahik lainnya, maka berapa orang mustahik
lagi yang bisa tertolong ?
Kita asumsikan yang dapat
memberikan bagian 1/8 tersebut sekitar 30 orang. Dan tiap orang mampu membagi
dua rata jumlah tersebut pada dua fakir. Maka jumlah fakir yang dapat ditolong
adalah:
30 x 2 = 60 orang.
Sungguh hal tersebut merupakan
suatu hal yang sangat menggembirakan.
Maka dari analisa yang sangat
sederhana di atas kita bisa mengatakan bahwa sangat pantaslah jika seandainya
amil masih menerima bagiannya untuk membayarkan zakat atas penghasilannya
sebagai amil zakat. Tapi jika hal tersebut dilarang syari’at maka setidaknya
para lembaga amil zakat bertindak seperti LAZ DKI Jakarta yang mengalokasikan
pelaksanaan bagiannya dengan mengalihkan kepada sektor fakir-miskin dan sektor
fisabilillah karena amil sendiri mendapat gaji dari APBD.
B.4. Pembagian
Zakat
1.
Syarat-syarat
Kekayaan yang Wajib di Zakati Antara lain:
a.
Milik Penuh Artinya
harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat
diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses
pemilikan yang dibenarkan menurut syariat Islam, seperti : usaha, warisan,
pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila
harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut
tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara
dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.
b.
Berkembang Artinya
harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai
potensi untuk berkembang.
c.
Cukup Nishab
Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan
syara'. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat dan
dianjurkan mengeluarkan Infaq serta Shadaqah.
d.
Lebih Dari
Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga
yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila
kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak.
Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum,
misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.
e.
Bebas Dari hutang
adalah Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus
dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta
tersebut terbebas dari zakat.
f.
Berlalu Satu Tahun
(Al-Haul Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu
(mencapai) satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta
simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz
(barang temuan) tidak ada syarat haul.
2.
Sasaran Pembagian
Zakat
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya
zakat-zakat ini, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, untuk orang-orang yang berhutang, untuk di jalan Allah
dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(At-Taubah:60).
Ibnu Katsir r.a. ketika
menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya II: 364 mengatakan, “Tatkala Allah SWT menyebutkan penentangan orang-orang
munafik yang bodoh itu atas penjelasan Nabi saw. dan mereka mengecam Rasulullah
mengenai pembagian zakat, maka kemudian Allah SWT menerangkan dengan gamblang
bahwa Dialah yang membaginya. Dialah yang menetapkan ketentuannya, dan Dialah
pula yang memproses ketentuan-ketentuan zakat itu, sendirian, tanpa campur
tangan siapapun. Dia tidak pernah menyerahkan masalah pembagian ini kepada
siapapun selain Dia. Maka Dia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang telah
disebutkan dalam ayat di atas.
Pakar tafsir kenamaan Ibnu
Katsir menegaskan bahwa para ulama’ berbeda pendapat mengenai delapan kelompok
ini, apakah mereka harus mendapatkan bagian semua, ataukah boleh diberikan
kepada sebagian di antara mereka ? Dalam hal ini, ada dua pendapat :
a.
Pendapat pertama,
mengatakan bahwa zakat itu harus dibagikan kepada semua delapan kelompok itu.
Ini adalah pendapat Imam Syafi’I dan
sejumlah ulama’ yang lain.
b.
Pendapat kedua,
menyatakan bahwa tidak harus dibagikan kepada mereka semua, boleh saja, dibagikan
pada satu kelompok saja diantara mereka, seluruh zakat diberikan kepada
kelompok tersebut, walaupun ada kelompok-kelompok yang lain. Ini adalah
pendapat Imam Malik dan sejumlah ulama’ salaf dan khalaf, di antara mereka
ialah Umar bin Khatab, Hudzifah Ibnul Yaman, Ibnu Abbas Abul’Aliyah, Sa’id bin
Jubair, Maimun bin Mahcar, Ibnu Jarir mengatakan, “Ini adalah pendapat
mayoritas ahli ilmu. Oleh karena itu, penulis, (Abdul ‘Azhim bin Badawi)
menyebutkan semua kelompok yang berhak menerima zakat di sini hanyalah untuk
menjelaskan pengertian masing-masing kelompok, bukan karena keharusan
memberikan zakat itu kepada semuanya.
Imam Ibnu Katsir mengatakan,
bahwa ia akan menyebutkan hadits –hadits yang bertalian dengan masing-masing
dari delapan kelompok kita:
1.
Kelompok pertama ;
Orang-orang fakir
Dari Abdullah Ibnu Umar bin
al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang
kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” (Shahih : Shahihul Jami’
no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah
meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).
Dari Ubaidillah bin ‘Adi bin
al-Khiyar r.a. bahwa ada dua orang sahabat mengabarkan kepadanya bahwa mereka berdua pernah menemui Nabi saw. meminta
zakat kepadanya, maka Rasulullah memperhatikan mereka berdua dengan seksama dan
Rasulullah mendapatkan mereka sebagai orang-orang yang gagah. Kemudian
Rasulullah bersabda, “Jika kamu berdua mau, akan saya beri, tetapi
(sesungguhnya) orang yang kaya dan orang yang kuat berusaha tidak mempunyai
bagian untuk menerima zakat,” (Shahih : Shahih Abu Daud no: 1438, ‘Aunul Ma’bud
V: 41 serta Nasa’i V:99).
2.
Kelompok kedua;
Orang-Orang Miskin
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling
minta-minta agar diberi sesuap dua suap makanan dan satu biji kurma,”
(Kemudian) para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang
dimaksud orang miskin itu?” Jawab Beliau, “Salah mereka yang yang hidupnya
tidak berkecukupan dan dia tidak punya kepandaian untuk itu, lalau diberi
shadaqah, dan mereka tidak mau minta-minta kepada orang lain.” (Muttafaqun
‘alaih:Muslim II : 719 no:1039 dan lafadz baginya, Fathul Bari III : 341 no:
1479, Nasa’i V:85 dan Abu Daud V:39 no: 1615).
3.
Kelompok ketiga:
Para Amil Zakat
Mereka adalah orang-orang yang
bertugas menarik dan mengumpulkan zakat. Mereka berhak mendapatkan bagian dari
zakat, namun mereka tidak boleh berasal dari kalangan kerabat Rasulullah saw.
yang haram menerima zakat. Hal ini ditegaskan oleh hadits shahih riwayat Imam
Muslim dan lain-lain :
Dari Abdul Mutthalib bin
Rabi’ah al Harits bahwa ia pernah berangkat di Fadhl bin al Abbas r.a.
menghadap Rasulullah saw. lalu memohon kepada beliau agar mereka diangkat
sebagai penarik dan pengumpul zakat. Maka (kepada mereka). Beliau bersabda,
“Sesungguhnya zakat itu tidak halal bagi keluarga Muhammad dan tidak (pula)
bagi keluarga Muhammad; karena zakat itu adalah kotoran (untuk mensucikan diri)
manusia.” (Shahih ; Shahihul Jami’ no:1664, Muslim II : 752 no:1072, ‘Aunul
Ma’bud VIII: 205.(Imam Nawawi berkata, “Ma’na AUSAKHUN NAAS ialah zakat itu
sebagai pembersih harta benda dan jiwa mereka, sebagaimana yang ditegaskan
Allah Ta’ala, “Pungutlah sebagian dari harta benda mereka sebagai zakat yang
mensucikan mereka dan membersihkan (jiwa) mereka.“ Jadi zakat adalah pembersih
kotoran. Lihat Syarah Muslim VII:251).
4.
Kelompok keempat :
Orang-orang Muallaf
Kelompok muallaf ini terbagi
menjadi beberapa bagian.
a.
Orang yang diberi
sebagian zakat agar kemudian memeluk Islam. Sebagai misal Nabi saw. pernah
memberi Shafwan bin Umayyah sebagian dari hasil rampasan perang Hunain, dimana
waktu itu ia ikut berperang bersama kaum Muslimin:
"Nabi saw. selalu memberi
kepada hingga beliau menjadi orang yang paling kucintai, setelah sebelumnya
beliau menjadi orang yang paling kubenci." (Shahih : Mukhtashar Muslim no:
1558, Muslim II:754 no:168 dan 1072, ‘Aunul Ma’bud VIII: 205-208 no: 2969, dan
Nasa’i V:105-106).
b.
Golongan orang yang
diberi zakat dengan harapan agar keislamannya kian baik dan hatinya semakin
mantap.
Seperti pada waktu perang
Hunain juga,ada sekelompok prajurit beserta pemukanya diberi seratus unta,
kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memberi zakat
kepada seorang laki-laki, walaupun selain dia lebih kucintai daripadanya
(laki-laki tersebut) karena khawatir Allah akan mencampakkannya ke (jurang)
neraka Jahanam.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I: 79 no:27, Muslim I:132
no:150, ‘Aunul Ma’bud XII : 440 no:4659, dan Nasa’i VIII:103).
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa Ali r.a. pernah diutus menghadap
kepada Nabi saw. dari Yaman dengan membawa emas yang masih berdebu, lalu dibagi
oleh beliau saw. kepada empat orang (pertama) al-Aqra’ bin Habis, (kedua)
Uyainah bin Badr, (ketiga) ‘Alqamah bin ‘Alatsah, dan (keempat) Zaid al-Khair,
lalu Rasulullah bersabda, “Aku menarik hati mereka.” (Muttafaqun ‘alaih :
Fathul Bari III: 67 no:4351, Muslim II:741 no:1064, ‘Aunul Ma’bud XIII : 109
no:4738).
c.
Bagian ini ialah
orang-orang muallaf yang diberi zakat lantaran rekan-rekan mereka yang masih
diharapkan juga memeluk Islam.
d.
Mereka yang
mendapat bagian zakat agar menarik zakat dari rekan-rekannya, atau agar membantu
ikut mengamankan kaum Muslimin yang sedang bertugas di daerah perbatasan.
Wallahu a’lam.
Apakah muallaf sepeninggal Nabi
saw. masih berhak mendapatkan bagian dari zakat ?
Ibnu Katsir r.a. mengatakan
bahwa dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’ bahwa para
muallaf tidak usah diberi bagian dari zakat setelah beliau wafat, karena Allah
telah memperkuat agama Islam dan para pemeluknya serta telah memberi kedudukan
yang kuat kepada mereka di bumi dan telah menjadikan hamba-hambaNya tunduk pada
mereka (kaum muslimin).
Kelompok yang lain berpendapat,
bahwa para muallaf itu tetap harus diberi, karena Rasulullah saw. pernah
memberi mereka zakat setelah penaklukan kota Mekkah dan penaklukan Hawazin,
zakat ini kadang-kadang amat dibutuhkan oleh mereka, sehingga mereka harus
mendapat alokasi bagian dari zakat.
5.
Kelompok kelima
:Untuk memerdekakan Budak
Diriwayatkan dari al-Hasan
al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, Umar bin Abdul Aziz, Sa’id bin Jubair,
an-Nakha’i, az-Zuhri, Ibnu Zaid bahwa
yang dimaksud riqab, bentuk jama’ dari raqabah “budak belian” ialah hamba
mukatab (hama yang telah menyatakan perjanjian dengan tuannya bilamana sanggup
menghasilkan harta dengan nilai tertentu dia akan dimerdekakan, pent).
Diriwayatkan juga pendapat yang semisal dengan pendapat tersebut dari Abu Musa
al-Asy’ari, dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan al-Lain.
Ibnu Abbas dan al-Hasan
berkata, “Tidak mengapa memerdekakan budak belian dengan uang dari zakat.” Ini
juga menjadi pendapat Mazhab Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Ishaq. Yaitu
bahwa kata riqab lebih menyeluruh ma’nanya daripada sekedar memberi zakat
kepada hamba mukatab, atau sekedar membeli budak lalu dimerdekakan.
Ada banyak hadits yang
menerangkan besarnya pahala memerdekakan budak, dan Allah SWT untuk setiap
anggota badan budak tersebut memerdekakan satu anggota badan orang yang
memerdekakannya dari api neraka, sampai untuk kemaluan sang budak Allah
memerdekakan kemaluan orang yang memerdekakannya. Sebagaimana yang ditegaskan
dalam hadits berikut :
Dari Abu Hurairah r.a. ia
berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang telah
memerdekakan seorang budak mukmin, niscaya Allah dengan setiap anggota badannya
akan membebaskannya anggota badan (orang yang memerdekakannya) dari api neraka,
hingga orang itu memerdekakan (masalah) kemaluan dengan kemaluan.” (Shahih :
Shahihul Jami’us Shaghir no:6051, Tirmidzi III:49 no: 1581).
Hal itu tidak lain, karena
balasan suatu amal perbuatan sejenis dengan amal yang dilakukannya. Allah
berfirman, “Dan kamu tidak
diberi pembalasan, melainkan apa yang telah kamu lakukan."
(QS.ash-Shaffat.39).
6.
Kelompok keenam :
Orang-orang yang Berhutang
Mereka terbagi menjadi beberapa
bagian : Pertama, orang yang mempunyai tanggungan atau dia menjamin suatu
hutang lalu menjadi wajib baginya untuk melunasinya kemudian meludeskan seluruh
hartanya karena hutang tersebut; kedua, orang yang bangkrut; ketiga, orang yang
berhutang untuk menutupi hutangnya; dan keempat, orang yang berlumuran maksiat,
lalu bertaubat. Maka mereka semua layak menerima bagian dari zakat.
Dasar yang menjadikan pijakan
untuk masalah ini ialah hadits dari Qubaishah bin Mukhariq al-Hilali r.a. ia
berkata, Aku pernah mempunyai tanggungan (untuk mendamaikan dua pihak yang
bersengketa), kemudian aku datang kepada Rasulullah saw. menanyakan perihal
beban tanggungan itu. Maka Beliau bersabda, “Tegakkanlah, hingga datang zakat
untuk kuberikan kepadamu!” Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Ya Qubaishah
sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi tiga golongan:
(Pertama) orang-orang yang memikul beban untuk mendamaikan dua pihak yang
bersengketa, maka dihalalkan baginya meminta, sampai berhasil mendapatkannya,
sehingga berhenti memintanya. (Kedua), orang yang tertimpa kebingungan yang
sangat, karena rusaknya harta bendanya, maka kepadanya dihalalkan meminta
zakat, sehingga ia mendapatkan kekuatan untuk menutupi kebutuhan hidupnya.
(Ketiga), orang yang mendapatkan kesulitan hidup hingga tiga orang dari pemuka
kaumnya berdiri (lalu bertutur), bahwa kesulitan hidup telah menimpa si fulan,
maka baginya dihalalkan meminta hingga mempunyai kekuatan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Maka tidak ada hak bagi selain yang tiga kelompok itu untuk
meminta wahai Qubaishah!” (Shahih :
Mukhtashar Muslim no: 568, Muslim II: 722 no:1044, ‘Aunul Ma’bud V:49 no: 1624,
dan Nasa’i V:96).
7.
Kelompok ketujuh
: fi sabilillah ialah para mujahid
sukarelawan yang tidak memiliki bagian atau gaji yang tetap dari kas negara.
Menurut Imam Ahmad, al-Hasan
al-Bashri dan Ishaq bahwa menunaikan ibadah haji termasuk fi sabilillah.
Menurut hemat penulis Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi, tiga imam itu mendasarkan
pendapatnya pada hadits berikut :
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata
bahwa Rasulullah saw. bermaksud hendak menunaikan ibadah haji. Lalu ada seorang
wanita berkata kepada suaminya (tolong) hajikanlah aku bersama Rasulullah saw.”
Maka jawabnya, “Aku tidak punya biaya untuk menghajikanmu.“ Ia berkata (lagi)
kepada suaminya, “(Tolong) hajikanlah diriku dengan biaya dari menjual untamu
(yang berasal dari zakat) si fulan itu.” Maka jawabnya, “Itu diperuntukkan fi
sabilillah Azza Wa Jalla.” Kemudian sang suami datang menghadap Rasulullah saw.
lalu bertutur, “(Ya Rasulullah), sesungguhnya isteriku menyampaikan salam
kepadamu; dan ia meminta kepadaku agar ia bisa menunaikan ibadah haji
bersamamu. Ia mengatakan, kepadaku, “(Tolong) hajikanlah aku dengan biaya dari
hasil menjual untamu (yang berasal dari zakat) si fulan itu,’ Lalu saya jawab, “Itu
diperuntukkan fi sabilillah,’ “Maka Rasulullah saw. bersabda, “Ketahuilah
sesungguhnya, kalau engkau menghajikannya dengan biaya berasal dari hasil
tersebut, berarti fi sabilillah juga).” (Hasan Shahih : Shahih Abu Daud no :
1753, ‘Aunul Ma’bud V:465 no : 1974, Mustadrak Hakim I: 183, dan Baihaqi VI:
164).
8.
Kelompok kedelapan
: Ibnu Sabil
Adalah seorang yang musafir
melintas di suatu negeri tanpa membawa bekal yang cukup untuk kepentingan
perjalanannya, maka dia pantas mendapat alokasi dari bagian zakat yang cukup
hingga kembali ke negerinya sendiri, meskipun ia seorang yang mempunyai harta.
Demikian juga hukum yang
diterapkan kepada orang yang mengadakan safar dari negerinya ke negeri orang
dan dia ia tidak membawa bekal sedikitpun, maka ia berhak diberi bagian dari
zakat yang sekiranya cukup untuk pulang dan pergi. Adapun dalilnya ialah ayat
enam puluh surah at-Taubah dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan
Ibnu Majah.
Dari Ma’mar dari Yasid bin
Aslam, dari ‘Atha’ bin Yassar dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya, kecuali bagi lima
(kelompok): (pertama) orang kaya yang menjadi amil zakat, (kedua) orang kaya
yang membeli barang zakat dengan harta pribadinya, (ketiga) orang yang
berutang; (keempat) orang kaya yang ikut berperang di jalan Allah, (kelima)
orang miskin yang mendapat bagian zakat,
lalu dihadiahkannya kembali kepada orang kaya,” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir
no: 7250, ‘Aunul Ma’bud V : 44 no : 1619, dan Ibnu Majah I: 590 no :1841).
Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul
'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau
Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah,
terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 439 – 448.
B.5. Infaq Dan
Shadaqah
Infaq yaitu mengeluarkan (menafkahkan, membelanjakan)
sebagian harta yang kita miliki baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga,
maupun kepentingan pihak lain sesuai dengan kemampuan kita masing-masing,
semata-mata mengharap ridhlo Allah dan kebaikan hidup di akhirat nanti.
Infaq ada yang wajib dan ada yangsunnah. Infaq wajib
diantaranya zakat, kafarat, nadzar, dll. Infak sunnah diantara nya, infak
kepada fakir miskin sesama muslim, infak bencana alam, infak kemanusiaan, dll.
Terkait dengan infak ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan
Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo'a setiap pagi dan sore :
"Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain
: "Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran".
Zakat, baik berupa zakat harta maupun zakat fitrah,
merupakan shadaqah wajib. Di samping shadaqah wajib itu, agama Islam juga
sangat menganjurkan agar kita suka mengeluarkan shadaqahsunnah atau derma
sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik kepada orang-orang tertentu maupun
untuk kepentingan umum. Di dalam masyarakat kiata, pengertian yang terakhir
inilah (derma, shadaqahsunnah) yang dimaksudkan dengan istilah shadaqah.
Dengan demikian, pengertian
shadaqah yaitu memberikan sebagian harta yang kita miliki kepada pihak lain
secara sukarela, semata-mata mengharap pahala atau kebaikan di akhirat. Orang
yang gemar dan suka berderma atau mengeluarkan shadaqah, biasa disebut
dermawan. Mengeluarkan shadaqah (sedekah) harus semata-mata ikhlas karena Allah
dan tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang yang menerima shadaqah
tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Puasa ialah menahan
diri dari makan dan minum serta melakukan perkara-perkara yang boleh
membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sehingga terbenamnya matahari.
2.
Penelitian yang
dilakukan Dr. Alan colt dari USA , manfaat puasa :
§ Fisik lebih baik
§ Batin atau rohani terasa bersih
§ Tekanan darah dan kadar kolesterol terkontrol
§ Nafsu sexual terkendali
§ Mengendurkan ketegangan
§ Menajamkan perasaan
§ Mampu menguasai diri
§ Menghambat proses penuaan
§ Meningkatkan daya tahan tubuh
3.
Hubungan antara
pengertian zakat menurut bahasa dan menurut istilah, sangat nyata dan erat
sekali, yaitu bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah,
tumbuh, berkembang dan bertambah, suci dan beres (baik). Sedangkan menurut
terminologi syari'ah (istilah syara'), zakat berarti kewajiban atas harta atau
kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu
tertentu.
Infaq yaitu mengeluarkan
(menafkahkan, membelanjakan) sebagian harta yang kita miliki baik untuk
kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun kepentingan pihak lain sesuai dengan
kemampuan kita masing-masing, semata-mata mengharap ridhlo Allah dan kebaikan
hidup di akhirat nanti.
4.
Harta (maal) yang
Wajib di Zakati Antara lain:
a.
Binatang Ternak
b.
Emas Dan Perak
c.
Barang
Perniagaan/Perdagangan,
d.
Hasil Pertanian
e.
Kekayaan Laut
f.
Rikaz/ Barang
temuan
B.
SARAN
Dengan terselesainya makalah
ini diharapkan sangat bermanfaat untuk kita semua dan menjadikan penambahan
perbendaraan kita tentang AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN IV.Dengan ini penulis
harapkan saran dan kritikannya yang sifatnya membangun guna penyusunan makalah
berikutnya lebih baik dari sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar